Indeks 98 Harap ICW Cepat Akhiri Polemik dengan Moeldoko

direktur-eksekutif-indeks-98-wahab-talaohu

Laporan wartawan tribunnews. com, Danang Triatmojo

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA – Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko melalui kuasa hukumnya, Otto Hasibuan kembali melayangkan somasi ketiga kepada Indonesia Corruption Watch (ICW).

Otto menyebut somasi ini jadi yang terakhir sebelum kliennya melapor ke polisi.

Adapun pasal ini terkait laporan ICW yang menuding Moeldoko terkebat dalam pusaran pemburu rente obat ivermectin hingga ekspor beras.

Menyikapi hal ini, Direktur Manajer Indeks 98 Wahab Talaohu menilai somasi yang diberikan Moeldoko bertujuan untuk menyudahi polemik di publik.

Baca juga: ICW Desak Hakim Ketentuan Hukuman Seumur Hidup untuk Eks Mensos Juliari Batubara

Namun di sisi lain, ICW dipandang lebih suka publik berpolemik lantaran enggan meyakinkan argumentasi dalam laporannya, sama dengan isi somasi Moeldoko.

“Somasi ditempuh untuk menghindari polemik di publik. Namun kita melihat justru ICW lebih suka terbuka berpolemik dengan tidak dengan terbuka meminta maaf pada Moeldoko atas kekeliruan yang dibuat.

Baca juga: Moeldoko Bilang Polemik TWK KPK Tak Perlu ke Jokowi, ICW: Pernyataan Keliru

Karena pada Somasi pertama dan kedua, ICW tidak mampu membuktikan tuduhannya, ” kata Wahab era dikonfirmasi, Selasa (24/8/2021).

Menurutnya apa yang ditempuh Moeldoko adalah wujud pembelaan hak asasi.

Mengingat namanya dicemarkan dengan narasi penelitian ICW yang tak didasari bukti dan data.

Baca serupa: Awak Kuasa Hukum ICW Pastikan Sudah Balas Somasi dibanding Moeldoko

“Yang diperjuangkan oleh pak Moeldoko ada beliau membela hak asasinya sebagai seorang manusia, seorang ayah dan seorang kakek.

Beliau tidak terima sebab difitnah dengan narasi berlagak penelitian yang tidak didasari pada data dan keterangan, ” ujarnya.

ICW diharapkan tidak terus bersembunyi dibalik dalil penelitiannya sebagai pembenaran dari kelengahan argumentasi.

Terlebih penelitian ICW disebut menyalahi kaidah penelitian karena hanya berdasarkaan pada sangkaan.

“ICW tanpa bersembunyi dibalik dalil penelitian. Karena penelitiannya sudah melupakan metodologi paling subtansial sebab hanya disusun berdasar anggapan dan praduga, tidak sebati data dan fakta.

Sehingga sudah sepantasnya ICW khususnya saudara Egi Primayogha segera mengakhiri kontroversi ini dengan secara terkuak meminta maaf kepada Moeldoko, ” pungkas Wahab.